Kamis, 23 Oktober 2008

Undian ke Surga

Oleh: Nurrahman Effendi

Betapa bergemuruhnya dada orang-orang yang di dalamnya terpancang keimanan yang kuat ketika diseruhkan kepada mereka untuk berjihad membela agama Allah. Karena tidak ada suatu apapun yang sepadan untuk membeli jiwa dan raga orang-orang yang berperang menegakkan agama Allah, selain surga. Surga sesungguhnya adalah kemenangan yang besar.
Mati syahid adalah kemuliaan sejati. Betapa bergeloranya dada ketika menyambut perintah jihad. Betapa inginnya mereka menyandang gelar syahid. Sungguh tak ada keraguan dan kesedihan hati bagi orang-orang yang mendapat peringkat syahid. Berbaris-baris pasukan Mukminin menyatakan kesediaannya untuk menunaikan perintah agung itu.
Rasulullah saw. memanggil kaum Muslimin yang mampu untuk berangkat ke Badar. Menunaikan perintah Allah untuk berjihad membela agama-Nya.
Tak ada keraguan sedikit pun dalam hati mereka. Betapa dekatnya syahid. Betapa dekatnya surga. Betapa dekatnya bidadari-bidadari bermata jeli. Betapa dekatnya mahkota-mahkota yang lebih baik dari dunia dan segala isinya. Dan semua itu sudah berkecamuk dalam dada kaum Mukminin.
"Wahai Ayah, izinkanlah saya saja yang berangkat ke Badar. Sungguh, Rasulullah saw. telah mewajibkannya bagi orang-orang yang mampu seperti saya. Sungguh Ayah, saya sudah tak sabar lagi ingin mencium harumnya surga. Izinkan saya saja yang berangkat," suara Saad bin Khaitsamah memelas kepada ayahnya.
Betapa ia tak mampu lagi menumpahkan luapan keinginannya untuk terjun dalam perperangan pertama kaum Mukminin menghadapi kafir Quraisy.
"Wahai anakku, aku yang lebih layak darimu untuk berangkat bersama pasukan Rasulullah. Tinggallah, masih ada yang akan kau jaga yakni wanita dan anak-anak," kata Khaitsamah. Walaupun usianya sudah senja, tapi semangat jihad teramat berkobar dalam dadanya.
"Wahai Ayahku, demi Allah janganlah berbuat seperti itu. Karena keinginanku untuk memerangi kaum kafir lebih besar daripada keinginanmu. Maka izinkanlah aku saja yang keluar," suara Saad sudah teramat parau.
Namun sikap kukuh ayahnya tidak mampu dipadamkan dengan semua itu. Khaitsamah bersuara tinggi kepada kepada anaknya, "Kau membangkang dan tidak mentaati perintahku!"
"Allah telah mewajibkan aku berjihad dan Rasulullah memanggilku untuk berangkat berperang. Tidakkah itu cukup jadi alasan bagi Ayah untuk mengizinkan aku berangkat ke Badar? Sedangkan Ayah meminta aku melakukan yang lain. Apakah pantas bagiku menentang Allah dan Rasulullah?"
"Wahai anakku, kalau hanya salah satu dari kita yang boleh berangkat, kau atau aku. Maka dahulukanlah ayahmu yang sudah tua ini yang berangkat," kini suara Khaitsamah mulai pelan.
"Demi Allah wahai Ayahku. Kalau bukan karena surga, tentu aku akan mendahulukanmu."
Antara bapak anak itu sepertinya tidak akan mendapatkan kesepahaman. Khaitsamah tidak akan rela kecuali melalui undian. Siapa di antara mereka yang akan berangkat sehingga terasa lebih adil. Rupayanya keberuntungan berpihak kepada Saad. Dengan terpaksa Khaitsamah merelakan anaknya yang berangkat ke Badar.
Saad minta izin kepada ayahnya. Khaitsamah hanya mengangguk kecil. Matanya sudah basah oleh air mata. Betapa rindunya ia pada medan jihad dan surga.
"Ayah jangan bersedih hati. Aku tak akan pulang sampai mendapat syahid."
"Berangkatlah, semoga Allah menganugrahkan apa yang kau dambakan itu. Alangkah bahagianya dirimu wahai anakku."
Saad memburu dalam pelukan ayahnya. Dia juga tak mampu menahan air matanya agar tidak tumpah. Itu adalah perpisahannya yang terakhir dengan ayahnya. Dalam kecamuk perang Badar, Saad bin Khaitsamah mendapatkan apa yang dia dambakan. Berita syahidnya Saad sampai juga kepada ayahnya.
"Engkau telah mendapatkan kemenangan yang gemilang wahai anakku. Demi Allah, aku akan menyusulmu. Aku akan menyusulmu."
Air mata Khaitsamah berjatuhan seperti hujan di wajahnya. Sampai-sampai jenggotnya basah oleh air matanya.
Seruan jihad kembali menggema di langit kota Madinah. Kerinduan kemenangan pada perang Badar telah membuat dada-dada kaum Mukminin kian bergemuruh untuk segera menunaikan seruan Rasulullah saw. Apalagi mereka yang tidak turun di medan Badar, ada semacam rasa bersalah dalam dada. Dan itu makin bertambah-tambah ketika melihat kemenangan gemilang yang berhasil ditorehkan pasukan Mukminin. Sejarah pun mencatatnya dengan tinta emas. Mereka ingin menebusnya dengan perang Uhud. Sungguh, mereka ingin segera sampai di Uhud lalu menebas batang leher musuh-musuh Allah.
Kali ini Khaitsamah tidak akan berdiam diri. Walau Rasulullah tidak mewajibkannya berangkat karena usianya yang sudah lanjut, Khaitsamah menyelinap masuk ke dalam barisan pasukan Islam. Dia membawa perlengkapan perang sendiri.
Ketika geladi resik yang langsung dipimpin oleh Rasulullah, beliau mendapati Khaitsamah ada dalam barisan pasukan Muslimin. Rasulullah pun tidak mengizinkannya ikut bergabung dengan pasukan Uhud itu.
"Wahai Rasulullah, sebenarnya dulu aku sangat ingin berangkat ke Badar. Sampai-sampai aku dan anakku berselisih sebelum kami mengadakan undian siapa yang berhak untuk berangkat ke Badar. Saad yang memenangkannya sehingga dia yang mendapat syahid."
Dengan air mata yang terus bercucuran, Khaitsamah coba menjelaskan alasannya kepada Rasulullah. "Tadi malam aku bermimpi bertemu anakku. Dia berkata kepadaku, "Ayah harus menemaniku di surga. Dan aku telah menerima apa yang dijanjikan Allah. Lihatlah keadaan yang ada pada diriku ini Ayah, dan semua yang aku dapatkan ini." Wahai Rasulullah, demi Allah, aku rindu untuk menemaninya di surga. Usiaku telah lanjut dan aku ingin berjumpa dengan Rabbku. Izinkan aku ikut bersamamu."
Rasulullah saw. pun tidak berkata-kata lagi. Dia melewati Khaitsamah untuk memeriksa pasukan Islam sebelum dia berpidato membangkitkan semangat jihad dalam dada setiap pasukan yang merindukan surga itu.
Pertempuran Uhud pun berkecamuk dengan hebatnya. Khaitsamah bertempur dengan semangat membaja. Tujuannya hanya satu, syahid. Dan Allah pun tidak menyia-nyiakan harapan hamba-Nya itu. Khaitsamah gugur sebagai syahid. Dia pun telah mendapatkan kemenangan yang besar dan perjumpaan dengan anaknya di surga.

Wahai Saudaraku Seiman yang selalu mencari keridhaan Allah
Belajarlah dari orang-orang terdahulu, dari sebaik-baik generasi yang pernah ada di muka bumi ini. Kecintaan mereka terhadap kematian dalam membela agama Allah sama besarnya dengan kecintaan orang-orang kafir terhadap dunianya, bahkan lebih besar dari itu. Mereka bersungguh-sungguh dan sabar menghadapi kesulitan dalam berjihad di jalan Allah. Dan Allah memberikan balasan sesuai dengan yang mereka inginkan.
Sungguh, balasan yang ada di sisi Allah lebih baik dari apa yang kita bayangkan. Adakah kemenangan yang lebih besar daripada surga? Adakah kenikmatan yang mampu mengalahkan surga? Sungguh, amat beruntunglah orang-orang yang menukar jiwa dan raganya hanya dengan surga. Allahu Akbar.

Dikutip dari buku The Power of Wisdom Kitab Hikmah Buah Keimanan
Penulis Nurrahman Effendi, Penerbit Grafindo, 2008

2 komentar:

lilih muflihah mengatakan...

keren

kiki ali mengatakan...

tiket ke surga:
kasi ki2 gratisan plus ttd